Ludruk sebenarnya memiliki nilai kesenian yang sangat tinggi, dengan menjaga keaslian ditengah moderenisasi di Surabaya. Banyak orang yang menganggap bahwa ludruk itu kuno karena mayoritas penikmat ludruk adalah orang tua. Bagi kaum muda, ludruk kalah dengan internet, sinetron, dan sebagainya karena selain moderenisasi juga kelangkaan pementasan ludruk di Surabaya. Sebenarnya ludruk tidak kalah menariknya juga dengan komedi-komedi modern yang lain. Apalagi dengan menggunakan bahasa Suroboyoan dimana mayoritas penduduk Surabaya juga menggunakan bahasa Suroboyoan dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam pementasan ludruk biasanya berisi banyolan terutama banyolan Surabaya yang kasar dan kadang kisruh/nyeleweng. Jadi, bila diserap oleh penonton dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, maka kedengarannya kasar dan buruk sekali. Selain bahasanya yang lucu juga pelakonnya yang didominasi kaum pria. Bagaimana tidak lucu jika seorang pria memerankan tokoh wanita dimana biasanya wanita suaranya melengking dengan seorang pria yang suaranya ngebass. Selain pada pita suara juga pada kelakuan. Biasanya wanita itu lembut, lentik dengan pria yang tomboy. Itu juga menjadi hal yang lucu karena biasanya jika seorang pria menjadi wanita sedangkan pria tersebut maco. Maka akan menimbulkan tawa secara tak sadar. Dan bila seorang pria yang sering melakonkan tokoh wanita, kemudian dia tidak kuat iman, dia bisa akan menjadi bencong.
Itulah sisi positif dan sisi negative sebuah ludruk

Kampanye JACP
