e premte, 15 qershor 2007
In my opinion, ludruk is typical drama artistry in East Java, specially Surabaya. Show by a above artistry group a podium with its story is dominant or typical that is everyday life story but sometimes there is also telling a story about struggle, empire, and others. A ludruk is usually accompanied with the music gamelan and opened by dance remo. Dialogue / monologue of at ludruk in character amuse and make the people laughed, it is not strange at staging ludruk always there is parikan. Its Ianguage is communicative at ludruk ( usually use the harsh Ianguage suroboyoan and also refine), making ludruk is easy to understood by everybody Surabaya of[is inclusive of worker bakso, pedicab worker, till lord mayor.
Ludruk opened by dance remo and accompanied by gamelan with all pesindennya. All pelakon which I know nothing that woman, all conducted by a man clan. Even stage manager, dancer remo, and player gamelan consisted of by the man clan. Only some just woman becoming pesinden. Ludruk usually show at night ( above at nine night). group Ludruk in Surabaya this time which I know is ludruk of[is Mega- Culture, Orjag ( people jagir), Cultural Dawn, Cultural Rhythm, Devoted of Glorious Kindness, Sesomnate the Tribrata and ludruk of University of Adi of Nature Surabaya. And which I have ever visited is ludruk of[is Mega- Culture which have station to in road;street of Pulo Wonokromo itupun [of] when me there is activity of Study Tour SMP first class, about three year ago. Hitherto, grup ludruk of[is Mega- Culture still eksis. This matter is proved by when I go the the ketempat on Friday, 15 June 2007. Even before that, ( thursday) is stage in Building of Cak Durasim.






Ludruk menurut saya adalah kesenian drama yang khas di Jawa Timur, khususnya Surabaya. Dipentaskan oleh sebuah kelompok kesenian di atas sebuah panggung dengan ceritanya yang khas atau dominan yaitu cerita kehidupan sehari-hari tetapi terkadang ada juga yang bercerita tentang perjuangan, kekerajaan, dan lain sebagainya. Sebuah ludruk biasanya diiringi dengan musik gamelan dan dibuka oleh tari remo. Dialog/ monolog pada ludruk sifatnya menghibur dan membuat orang tertawa, tak heran pada pementasan ludruk selalu ada parikan. Bahasanya yang komunikatif pada ludruk (biasanya menggunakan bahasa suroboyoan kasar maupun halus), membuat ludruk mudah dimengerti oleh semua orang Surabaya termasuk tukang bakso, tukang becak, hingga wali kota.
Ludruk dibuka oleh tari remo dan diiringi oleh gamelan dengan para pesindennya. Para pelakon yang saya ketahui tidak ada yang wanita, semua dilakukan kaum pria. Bahkan sutradara, penari remo, dan pemain gamelan terdiri dari kaum pria. Hanya beberapa wanita saja yang menjadi pesinden. Ludruk biasanya dipentaskan pada malam hari (di atas pukul sembilan malam). Kelompok ludruk di Surabaya sekarang ini yang saya ketahui adalah ludruk Mega Budaya, Orjag (orang jagir), Fajar Budaya, Irama Budaya, Setia Budi Jaya, Gema Tribrata dan ludruk Universitas Adi Buana Surabaya. Dan yang pernah saya kunjungi adalah ludruk Mega Budaya yang bermarkas di jalan Pulo Wonokromo itupun ketika saya ada kegiatan Study Tour SMP kelas satu, sekitar tiga tahun yang lalu. Sampai sekarang, grup ludruk Mega Budaya masih eksis. Hal ini dibuktikan ketika saya pergi ketempat tersebut pada hari Jumat, 15 Juni 2007. Bahkan sebelum itu, (kamis) mereka pentas di Gedung Cak Durasim.
 
posted by Balladona Innocent at 9:31 m.d. |


0 Comments: